Jumat, 22 November 2013
Hati seakan tercabik-cabik
metika mata melihat bayangmu
kau bersanding bagai raja & ratu
membuat nafas tersendat tak menentu
Aku menemukanmu kembali
di antara rindu-rindu surgawi
yang merekah dalam cinta lainnya
Salahkah aku??
bila membayangkan senyumanmu
bila merindukan dirimu dulu
Dosakah aku???
ketika ku mengabaikan cintanya
bila ku mengharapkan bayang semu
yang ku tau, semua tak akan menjadi satu
Aku tak mengarti kata CINTA
aku juga tak mengerti tentang RASA
yang ku tau, aku telah menjadi miliknya & merindukan bayangan semu.
ikip, 18 nov 2013
Rabu, 29 Mei 2013
berwarna biru pekat diseluruh penjuru
dunia
kicau burung bak seorang penyayi
menyambut sang mentari tersenyum manja
Angin sendu laksana musik india
membawa sang ranting bergoyang gembira
lekak-lekuk tubuhnya mempesona mata
hingga membuat bibir tersenyum
Warna-warni cakrawala menggetarkan jiwa
merayu dalam lentera fatamorgana
membias mata-mata yang memandanganya
dengan lantunan kata “SUBHANALLAH”
Burung kecil seakan bergembira
mengepakkan sayap menuju alam semesta
membawa alunan melodi
di antara langit dan bumi
Aku tersipu “MALU”,…….
melihat semua keindahan-Mu
tak mampu berpaling dari hadap-Mu
karena
tanganku tak ingin berhenti
menggoreskan
semua keindahan-Mu
madiun, 8 mei 2013 (05.30)
Sabtu, 04 Mei 2013
Gemercik air terdengar di gendang telinga
gelapnya senja membutakan kedipan mata
daun-daun terpajang di sudut kota
Tak ada tanda-tanda kehidupan
keindahan bumi seakan terlelap dalam mimpi
menggoda fikiran dan iman hati
dalam keindahan syetan surgawi
Aku terpaku dalam sunyi
bertemankan kertas dan melody
menyambut cakrawala di ujung sunyi
dengan berjuta mimpi-mimpi
Ketika angin senja menyapu lembut tubuh ini
merasuk dalam khayal tentang perjuangan
Hidupku laksana karang
terdampar dalam pulau kota
mengais demi masa depan
tentang harapan cinta di ujung senja
madiun, 3 mei 2013
gelapnya senja membutakan kedipan mata
daun-daun terpajang di sudut kota
Tak ada tanda-tanda kehidupan
keindahan bumi seakan terlelap dalam mimpi
menggoda fikiran dan iman hati
dalam keindahan syetan surgawi
Aku terpaku dalam sunyi
bertemankan kertas dan melody
menyambut cakrawala di ujung sunyi
dengan berjuta mimpi-mimpi
Ketika angin senja menyapu lembut tubuh ini
merasuk dalam khayal tentang perjuangan
Hidupku laksana karang
terdampar dalam pulau kota
mengais demi masa depan
tentang harapan cinta di ujung senja
madiun, 3 mei 2013
Nasib itu menggantung di ujung tower
melambai laksana hijaunya dedaunan
tertawa laksana merahnya mentari
menangis laksana hitamnya awan
Menari bagai ranting-ranting
saat terdiam mata telanjang menatapnya
angin seakan bercumbu ria
menggoda bahtera jiwa muda
membias angan-angan keindahan
Nasib itu terjungkal dalam mimpi
berjalan dengan kaki berdarah
menembus kabut dengan tongkat
hingga tersesat dalam jurang mimpi
Tolonglah,,................
bawa semua melayang
mengukir kenangan dalam nyayian rindu
mengecup dalam bibir maniez kalbu
dengan lantunan do'a menembus langit 7
madiun, 2 mei 2013, (16.33)
melambai laksana hijaunya dedaunan
tertawa laksana merahnya mentari
menangis laksana hitamnya awan
Menari bagai ranting-ranting
saat terdiam mata telanjang menatapnya
angin seakan bercumbu ria
menggoda bahtera jiwa muda
membias angan-angan keindahan
Nasib itu terjungkal dalam mimpi
berjalan dengan kaki berdarah
menembus kabut dengan tongkat
hingga tersesat dalam jurang mimpi
Tolonglah,,................
bawa semua melayang
mengukir kenangan dalam nyayian rindu
mengecup dalam bibir maniez kalbu
dengan lantunan do'a menembus langit 7
madiun, 2 mei 2013, (16.33)
Selasa, 23 April 2013
Ketika lentik jari itu bergoyang bak seorang penari erotis
mata ini selalu ingin terpejam dan
bibir ini selalu ingin tersenyum
Alunan nan merdu itu seakan
menghipnotis bianglala di senja ini
membaur cakrawala di atas kedipan hati
Bagai samudra raya kehidupan
mengais hati-hati yang telah mati
terhempas badai sunami
Mencabut raga yang tak berkedip
membakar cinta dalam lautan kehidupan
Nurruussaamm tersingkir dari kegelapan
membalut dahi yang teriris belati
saat bianglala memanahkan warna warni
jiwa raga mati dalam dekapan embun pagi
madiun, 23 april 2013 (06.09)
mata ini selalu ingin terpejam dan
bibir ini selalu ingin tersenyum
Alunan nan merdu itu seakan
menghipnotis bianglala di senja ini
membaur cakrawala di atas kedipan hati
Bagai samudra raya kehidupan
mengais hati-hati yang telah mati
terhempas badai sunami
Mencabut raga yang tak berkedip
membakar cinta dalam lautan kehidupan
Nurruussaamm tersingkir dari kegelapan
membalut dahi yang teriris belati
saat bianglala memanahkan warna warni
jiwa raga mati dalam dekapan embun pagi
madiun, 23 april 2013 (06.09)
Rabu, 13 Maret 2013
Mulut itu mengnganga!
menorehkan luka hingga menggerogoti hati
menyambar gendang telinga
hingga membutakan mata
Mulut itu mengnganga!
ketika mentari tarbit dan menghilang
suara celotehan terus menari
mengikuti hembusan angin
bercakap hingga tak terkendali
Mulut itu mengnganga!
membawa derita lara
dengan bertabur desis2 fatamorgana
menyebarkan celotehan yang tak kunjung reda
Mulit itu mengnganga!
mengumbar aib mangsa
hingga melambai neraka
terus merajam hingga azal menjemput lara
ngawi 22 feb 2013 (16,55)
Selasa, 12 Maret 2013
Ketika jiwa dan ragaku terhempas
cerita pahit merajami telinga
tentang kehidupan,.....
tentang mucikari,........
tentang uang,..............
semua seakan menari riang
mengikuti alunan angin melodi
Kapan tarian indah itu akan terhenti
berengkarnasi menjadi suara indah
dalam sejuknya hati
ngawi 21 februari 2013 (16,34)
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)
.jpg)
